Bandung, Blackkopinews.com — Hari Pahlawan menjadi momen refleksi tentang makna perjuangan dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah hiruk-pikuk Kampung Rancakasumba, sosok sederhana bernama Zaenal Abidin menjadi inspirasi banyak orang lewat ketekunan dan ketulusannya. Pria paruh baya itu setiap hari mengayuh sepeda tuanya, menjajakan es lollipop dari satu sekolah ke sekolah lain, menyusuri gang-gang sempit demi mencari rezeki halal 10 November 2025.
Sebelum menjadi binaan Rumah Zakat, Pak Zaenal menjalani usahanya dengan semangat tinggi, namun tanpa perencanaan yang jelas. Ia tak pernah mencatat penghasilan maupun pengeluaran, hanya mengandalkan ingatan saat menghitung hasil jualan harian. Setelah mendapatkan pendampingan usaha, motivasi, serta tambahan modal dari Rumah Zakat, arah usahanya mulai tertata.

Berbekal pelatihan pencatatan keuangan sederhana yang diberikan pendamping Rumah Zakat, Pak Zaenal mulai memahami pentingnya mengetahui alur uang masuk dan keluar. Dari situ ia menyadari, omzet yang semula hanya sekitar Rp2 juta per bulan, kini perlahan meningkat hingga mencapai Rp8 juta per bulan. Peningkatan itu menjadi bukti nyata bahwa semangat dan ilmu bisa membuka jalan perubahan.
Meski hanya berbekal sepeda tua dan kotak es sederhana, Pak Zaenal tetap teguh menjalani profesinya. Di bawah terik matahari maupun hujan deras, ia tetap berkeliling dengan wajah ceria, menyapa anak-anak yang menanti es buatannya.

“Selama masih bisa berusaha, saya tidak mau menyerah,” ujarnya singkat namun penuh makna.
Di momentum Hari Pahlawan ini, sosok seperti Pak Zaenal layak disebut pahlawan tanpa seragam—bukan berjuang di medan perang, melainkan di medan kehidupan. Dengan sepeda dan senyum tulusnya, ia mengajarkan bahwa kerja keras, doa, dan ketulusan adalah bentuk perjuangan sejati yang mampu menginspirasi banyak orang.
Liputan khusus : Giat relawan/Imas m
Editor : Apep sae,